Minggu, 06 Maret 2016

Laporan Perbanyakan Vegetatif Pada Tanaman Buah

PERBANYAKAN TANAMAN PADA BUAH SECARA VEGETATIF
LAPORAN AKHIR
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mata praktikum MPT Hortikultura Buah
Program Studi Agroteknologi
Disusun Oleh :

1.      Riski Pratama                                      201310200311001




LABORATORIUM AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN - PETERNAKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015


KATA PENGANTAR

           
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sebagai balasan atas amal baik dari semua pihak yang telah disebutkan di atas. Penulis mengharap saran dan kritik yang membangun guna kesempurnaan tugas laporan akhir ini. Semoga laporan akhir ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya.








Malang, 28 November 2015

  Penulis 
DAFTAR ISI










































DAFTAR TABEL

No.

Halaman
1
Tabel hasil pengamatan praktikum………………………..


































DAFTAR GAMBAR


No

Halaman
1.
Cara mencangkok…………………………………………………………….

2.
Cara okulasi……………………………………………………………..

3.
Cara penyusuhan…………………………………………………….....

































DAFTAR LAMPIRAN
No.

Halaman
1
Dakumentasi pengamatan praktikum………………………..



































BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Pada dasarnya setiap mahluk hidup pasti akan melakukan proses perbanyakan atau reproduksi yang mempunyai tujuan utama untuk mempertahankan keberadaan jenisnya secara berkelanjutan. Cara perbanyakan mahluk hidup dapat di bedakan menjadi dua yaitu perbanyakan secara generatif dan perbanyakan secara vegetatif.
            Perbanyakan secara generatif merupakan proses perkembangbiakan yang melibatkan peleburan gamet jantan dan gamet betina. Proses peleburan dua gamet ini biasa kita sebut pembuahan. Perbanyakan secara generatif terjadi pada tumbuhan berbiji, baik gimnospermae (berbiji terbuka) maupun angiospermae (berbiji tertutup). Sedangkan perbanyakan secara vegetatif merupakan cara perkembangbiakan tanpa melalui proses peleburan dua gamet, artinya satu induk tumbuhan dapat memperbanyak diri menghasilkan keturunan yang memiliki sifat identik dengan induknya. Perbanyakan secara vegetatif dapat terjadi secara alami atau buatan (artifisial).
            Perbanyakan secara vegetatif alami merupakan cara perkembangbiakan yang dilakukan tumbuhan tanpa melibatkan bantuan manusia. Contoh perbanyakan secara vegetatif alami antara lain  rhizoma, stolon, umbi lapis, tunas, umbi batang, spora, sedangkan perbanyakan secara vegetatif buatan merupakan cara perkembangbiakan tumbuhan yang sengaja dilakukan oleh manusia. Manusia sengaja memanfaatkan kemampuan maristematis tumbuhan untuk menghasilkan lebih banyak keturunan.        Cara perbanyakan ini tergolong cara yang sangat efektif karena dilakukan dalam waktu yang relative lebih singkat dibandingkan dengan perbanyakan secara vegetatif alami. Contoh perbanyakan secara vegetatif buatan antara lain stek, cangkok, sambung sisip, tempel (okulasi), sambung pucuk, sambung susu, kultur jaringan.

1.2 Tujuan Praktikum
            Praktikum ini bertujuan agar para mahasiswa/praktikan mengenal dan bisa langsung mempraktikan teknik perbanyakan secara vegetatif dengan cara mencangkok, okulasi, penyusuhan dan grafting (sambung pucuk) serta mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi perbanyakan tersebut sehingga nantinya dapat membandingkan perbanyakan vegetatif mana yang paling baik.










BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perbanyakan Tanaman Buah
            Pembiakan tanaman atau perbanyakan tanaman (plant propagation) adalah proses menciptakan tanaman baru dari berbagai sumber atau bagian tanaman, seperti biji, stek, umbi, dan bagian tanaman lainnya (Wikipedia, 2012). Tujuan utama dari pembiakan atau perbanyakan tanaman adalah untuk mencapai pertambahan jumlah, memelihara sifat-sifat penting dari tanaman dan juga untuk mempertahankan eksistensi jenisnya. (Askari, 2010).
            Ada dua cara perbanyakan tanaman, yaitu perbanyakan secara seksual atau generatif dan perbanyakan secara aseksual atau vegetatif. Perbanyakan secara seksual atau generatif adalah proses perbanyakan dengan menggunakan salah satu bagian dari tanaman, yaitu biji. Keuntungan dari perbanyakan generatif diantaranya adalah mudah dikerjakan, benih mudah disimpan, akar tunggang dan kemungkinan infeksi virus kecil, sedangkan keuntungan dari perbanyakan vegetatif diantaranya adalah lebih cepat berbuah, sifat turunan sesuai dengan induk dan dapat digabung sifat-sifat yang diinginkan. (Pratiknyo P, 2002).
2.2 Cara Perbanyakan Vegetatif Pada Buah
            Perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan suatu cara-cara perbanyakan atau perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya. Perbanyakan tanaman secara vegetatif tersebut tanpa melalui perkawinan atau tidak menggunakan biji dari tanaman induk. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus. (Ashari, S. 1995)
            Perbanyakan tanaman secara vegetatif dapat dilakukan secara alamiah yaitu perbanyakan tanaman tanpa melalui perkawinan atau tidak menggunakan biji dari tanaman induk yang terjadi secara alami tanpa bantuan campur tangan manusia. Perbanyakan tanaman secara vegetatif alamiah dapat terjadi melalui tunas, umbi, rizoma, dan geragih (stolon). Perbanyakan tanaman secara vegetatif juga dapat dilakukan secara buatan yaitu perbanyakan tanaman tanpa melalui perkawinan atau tidak menggunakan biji dari tanaman induk yang terjadi secara buatan dengan bantuan campur tangan manusia. Perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dapat dilakukan dengan cara stek, cangkok, okulasi dan penyusuhan.
2.2.1 Cangkok
            Dalam dunia pertanian mencangkok (airlayerage) merupakan salah satu istilah yang digunakan untuk memperbanyak tanaman secara vegetatif. Pembiakan vegetatif secara cangkok ini merupakan sauatu cara perkembangbiakan tanaman yang tertua di dunia akan tetapi hasilnya sering mengecewakan pencangkoknya karena kegagalan dalam melakukan pencangkokan. Kegagalan ini dapat dilihat dari bagian tanaman di atasa keratan/luka yang kering atau mati. Perkembangbiakan secara vegetatif ini biasanya dipilih karena pertimbangan tertentu misalnya untuk menginginkan tanaman baru yang mempunyai sifat sama seperti induknya, sifat tersebut dapat berupa seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit, rasa buah, keindahan bunga (Wudianto, 1998).
            Cangkok bertujuan untuk mendapatkan tanaman baru yang mempunyai sifat baik yang sama dengan induknya misalnya rasa buah dan agar tanaman lebih kuat terhadap hama penyakit. Tumbuhan yang akan dicangkok bisa ditanam di dalam pot karena tanaman yang dicangkok tersebut sangat mudah dirawat, pohonnya juga tidak akan terlalu tinggi seperti tanaman yang tidak dicangkok dan pohon yang tumbuh dengan cara dicangkok tidak akan mempunyai akar tunggang (Harmann, 2004).
2.2.2 Okulasi
            Okulasi adalah teknik memperbanyak tanaman secara vegetatif dengan cara menggabungkan dua tanaman secara lebih. Penggabungan ini dilakukan dengan cara mengambil mata tunas dari pohon induk, kemudian ditempelkan ke bagian percabangan primer. Percabangan primer adalah percabangan yang tumbuh dibawah batang. Resiko kegagalan perlakuan okulasisi mata tunas lebih rendah dibanding dengan resiko sambung pucuk. Penempelan mata tunas daya rekatnya lebih kuat disbanding dengan sambung pucuk sehingga pertumbuhan tunas selanjutnya cenderung lebih bagus. (Bang Ming, 2012).
            Ada jenis tanaman tertentu yang tidak bisa diokulasi karena banyak mengandung getah.Rambutan dan kapulasan selalu gagal kalau disambung (enten) karena pengaruh asam fenolat yang teroksidasi dapat menimbulkan pencoklatan (browning).  Resin dan asam fenolat ini bersifat racun terhadap pembentukan kalus (Machmudi, 2012).
2.2.3 Grafting (Penyambungan)
            Penyambungan atau grafting adalah cara memperbanyak tanaman dengan menyatukandahan tanaman satu ke tanaman yang lain dan tumbuh menjadi satu tanaman. Budding merupakan salah satu bentuk grafting, dimana tanaman induk merupakan bagian kulit kecil dari kulit pohon yang mengandung satu mata tunas. (Adriance dan Brinson, 1955).
            Menurut Jumin (1994), grafting atau penyambungan dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
1.      Approach graft (penyambungan dekat) atau yang lebih dikenal dengan penyusuan adalah menyambung dua tanaman yang masing-masing tanaman masih berhubungan dengan akarnya. Bagian yang digabungkan antarakedua tanaman itu adalah bagian atas saja. Setelah cukup berumur barulah salah satubatang bawah dipotong atau sama sekali dibiarkan terus sampai waktu tertentu.
2.      In arching adalah penyambungan (penyusukan) yang masing-masing batang atas dan bawah tetap berhubungan dengan akarnya. Hal ini untuk memperoleh yang daya isap haranya tinggi.
3.      Detached seron graft adalah batang atas lepas dari akarnya, diperoleh dari tanaman lain untuk disambung pada tanaman lainnya yang menjadi batang bawah.
4.      Bridge grafting adalah penyambungan yang terbentuk seperti jembatan guna mengganti kulit yang rusak.
BAB III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum Perbanyakan ini dilakukan di Karang Ploso-Malang pada hari Sabtu, 24 Oktober 2015.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
            Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah pisau/cutter, sprayer, polybag, tali plastik, plastik transparan/plastik es lilin dan kertas tisu.
3.2.2 Bahan
            Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tanah, air, ZPT, batang tanaman yang ingin diperbanyak secara vegetatif (tanaman sawo, jambu biji) dan mata tunas.
3.3 Langkah Kerja Praktikum
3.3.1 Cangkok
1.      Menyiapkan dan memilih tanaman yang akan diperbanyak dengan cara mencangkok.
2.      Mencari dahan tanaman dengan ukuran yang sedang dengan kulit batang yang tidak terlalu tua (berwarna coklat/coklat muda). Usahakan memilih batang dengan panjang minimal 10 cm.
3.      Mengupas kulit batang sepanjang 5cm disekeliling batang tanaman.
4.      Membersihkan lendir kambium hingga bersih secara perlahan dengan menggunakan kertas tissue.
5.      Mengolesi dengan larutan ZPT pada kambium yang sebelumnya sudah dibersihkan.
6.       Menutup dengan tanah/cocopeat batang yang sudah dikelupas tersebut.
7.      Membungkus tanah/cocopeat tadi dengan menggunakan plastik bening (plastik es lilin) lalu ikat kedua ujungnya hingga kuat agar tidak mudah lepas ataupun rusak.
8.      Merawat dan menyiram tanaman serta mengamati perkembangannya.
Gambar 1. Cara mencangkok
3.3.2 Okulasi (Penyisipan Mata Tunas)
1.      Menyiapkan dan memilih tanaman yang akan dilakukan penyisipan mata tunas.
2.      Membuat irisan melintang pada tanaman pokok pada bagian kulit halus sepanjang 1 cm dan menjaganya agar kambiumnya tetap basah/lembab.
3.      Mengambil mata tunas yang cukup subur dan besar (mata tunas yang baik terletak pada bagian tengah cabang) dengan cara membuat irisan melintang sepanjang 1,5 cm diatas dan di bawah mata, kemudian kedua ujung irisan dihubungkan sehingga diperoleh irisan berbentuk persegi panjang.
4.      Mengangkat kulit batang dengan pisau okulasi dan memegang tepi kulitnya.
5.      Menempelkan mata pada bagian batang pokok yang sudah dikelupas kulitnya kemudian mengikatnya menggunakan plastic es lilin dengan kuat.
6.      Melakukan perawatan tanaman serta mengamati mata tunas tersebut setelah 2 hingga 3 minggu. Apabila mata tunas masih hijau ada harapan bahwa hasil penempelan tunas berhasil/jadi.
Gambar 2. Cara okulasi









3.3.3  Approach Graft (Penyusuhan)
1.      Menyiapkan dan memilih tanaman yang akan dijadikan bahan penyusuhan.
2.      Melakukan pengupasan pada kulit batang atas dan batang bawah yang diperkirakan memiliki ukuran diameter batang yang sama.
3.      Menyatukan batang atas dengan batang bawah yang kemudian mengikatnya dengan plastik es lilin.
4.      Melakukan perawatan dan pengamatan.
Gambar 3. Cara Penyusuhan









BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
No.
Perlakuan
Minggu 1
Minggu 2
Minggu 3
Minggu 4
1.
Cangkok (Delima)
-
-
P
P
2.
Okulasi (Sukun merah)
-
-
-
-
3.
Penyusuhan (Sawo)
-
-
P
P
4
Cangkok (Jambu Kristal)
-
-
-
-
5.
Okulasi (Jambu Kristal)
-
-
-
-
6.
Penyusuhan (Sawo)
-
-
P
P
Keterangan : P = Berhasil
                      -- = Belum berhasil
4.2 Pembahasan
            Pada praktikum kali ini, kami melakukan perbanyakan vegetatif pada tanaman sawo, jambu kristal, sukun merah dan delima. Teknik perbanyakan vegetatif yang kami lakukan yaitu dengan cara okulasi, cangkok dan penyusuhan. Okulasi sering juga disebut dengan menempel, oculatie (Belanda) atau Budding (Inggris). Cara memperbanyak tanaman dengan cara seperti ini mempunyai kelebihan jika dibandingkan setek dan cangkok. Kelebihan dari cara perbanyakan okulasi adalah mempunyai mutu yang lebih baik daripada induknya. Dapat dikatakan demikian karena okulasi dilakukan pada tanaman yang mempunyai perakaran yang baik dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta dipadukan dengan tanaman yang mempunyai rasa buah yang lezat, tetapi mempunyai perakaran kurang baik. Tanaman yang mempunyai perakaran baik digunakan sebagai batang bawah, sedang tanaman yang mempunyai buah lezat diambil mata tunasnya untuk ditempelkan pada batang bawah yang dikenal dengan sebutan entres atau batang atas (Wudianto, 2002). Pada praktikum yang sudah dilakukan, kami menggunakan tanaman sukun merah dan jambu kristal sebagai tanaman yang diperbanyak secara vegetative dengan cara okulasi, namun hingga minggu ke empat pengamatan, okulasi yang sudah dilakukan pada kedua tanaman tersebut masih belum tumbuh. Hal tersebut dikarenakan untuk pertumbuhan okulasi memerlukan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 10 hingga 12 minggu pasca penyambungan mata tunas untuk menjadi tunas yang baru dan sempurna. Selain lamanya waktu yang diperlukan, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan saat melakukan okulasi agar tidak terjadinya kegagalan dalam menyambung mata tunas, yaitu harus sterilnya alat yang akan digunakan. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan cara menyelupkan atau menyemprot alat dengan fungisida. Hal tersebut untuk menjaga menularnya hama serta penyakit pada mata tunas dan batang tanaman saat kita melakukan pemotongan. Selain harus sterilnya alat, hal yang perlu diperhatikan selanjutnya yaitu pada saat pengikatan mata tunas. Dalam melakukan pengikatan batang dengan mata tunas tersebut, sebaiknya diikat dengan kencang, agar tidak goyang dan terlepas saat tertiup angin.
            Teknik perbanyakan selanjutnya yang kami lakukan saat praktikum yaitu penyusuan. Penyusuan (approach grafting) merupakan cara penyambungan di mana batang bawah dan batang atas masing-masing tanaman masih berhubungan dengan perakarannya. Keuntungannya tingkat keberhasilan tinggi, tetapi pengerjaannya agak merepotkan, karena batang bawah harus selalu didekatkan kepada cabang pohon induk yang kebanyakan berbatang tinggi. Kerugiannya penyusuan hanya dapat dilakukan dalam jumlah terbatas, tidak sebanyak sambungan atau menempel dan akibat dari penyusuan bisa merusak tajuk pohon induk. Pada praktikum yang sudah dilakukan, kelompok kami (kelompok 3) dan kelompok 6 melakukan penyusuhan pada tanaman sawo. Pada tabel hasil pengamatan diatas, penyusuhan yang kami lakukan dapat dikatakan berhasil karena pada saat kami melepas ikatan yang menyatukan dua batang, batang tersebut sudah menempel dan menjadi satu. Menurut buku referensi, penyusuhan dapat dikatakan berhasil jika tanaman yang ditempatkan atau disusukan tersebut tidak layu.
            Selanjutnya yaitu teknik mencangkok. Teknik mencangkok (marcottage atau air layerage) banyak dilakukan untuk memperbanyak tanaman hias atau tanaman buah yang sulit diperbanyak dengan cara lain, seperti stek, biji, atau sambung. Pada praktikum yang sudah dilakukan, ada dua jenis tanaman yang digunakan sebagai media untuk mencangkok, yaitu tanaman jambu kristal dan tanaman delima. Hasil dari pengamatan yang sudah dilakukan, hanya ada satu tanaman saja yang berhasil, yaitu pada tanaman delima. Hal ini dapat dilihat dari mulai keluarnya akar pada batang yang dilapisi tanah tersebut. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses pencangkokan diantaranya adalah batang yang di cangkok, batang harus dalm kondisi baik atau tidak cacat, tidak terlalu tua maupun muda, berdiameter sesusai; faktor media, kondisi media meliputi ketersediaan unsur hara penunjang pertumbuhan akar, kelarutan zat hara, pH, tekstur, jumlah bahan organik; faktor cahaya matahari, diperlukan tumbuhan untuk proses fotosintesis yang hasilnya ditransmisikan ke seluruh jaringan melalui floem; fotosintesis, proses fotosintesis dapat pula mempengaruhi perkembangan akar; cuaca (curah hujan) dan kelembaban yang sesuai; serta teknik pencangkokan, pada batang yang dicangkok dihilangkan floemnya menyebabkan zat-zat hasil fotosintesis tidak dapat sampai ke perakaran tetapi terkumpul pada bagian atas cangkok, cadangan makanan tersebut digunakan tanaman untuk pertumbuhan akarnya (Saputra,1990). Tanaman yang mudah berhasil diperbanyak dengan cara dicangkok umumnya memiliki kambium atau zat hijau daun, seperti mangga (Mangifera indica), sukun (Artocarpus communis), jeruk nipis (Citrus aurantifolia), alpukat (Persea americana), dan lain-lain.

             








BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1.      Perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif lebih cepat dan lebih efektif dari pada perbanyakan tanaman secara generatif yang membutuhkan waktu yang relative lama.
2.      Keberhasilan perbanyakan dipengaruhi oleh faktor media, kondisi tanaman, teknik serta perlakuan pada saat perbanyakan.
3.      Perbanyakan vegetative memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
4.      Pada teknik perbanyakan dengan cara okulasi, memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan teknik penyusuhan dan cangkok.
5.2 Saran
            Pada kegiatan praktikum perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cara mencangkok, okulasi dan penyusuhan ini kurang berjalan dengan baik. Kurangnya tanaman yang tersedia untuk dilakukan perbanyakan hingga kurang terdengarnya arahan atau instruksi dari insruktur menjadikan para praktikan agak sedikit kebingungan saat melakukan praktikum tersebut. Sebaiknya sebelum praktikum dilakukan, harus dipersiapkan dan dipastikan lagi dengan baik untuk bahan tanam serta instruktur yang memadai.


DAFTAR PUSTAKA
Adriance, G. W. and Brison, F. R. 1955. Propagation of Horticultural Plants. McHill        BookCompany. New York.
Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Bang ming, 2012. Okulasi Pada Tanaman. http://www.blogspot.com. diakses tanggal 18 November 2015
Harmann, H.T. and D.E Kester. 2004. Plant propagation principles and practices. Prentice-Hall,Inc. Englewood Cliffs, New Jersey.
Jumin, Hasan. Basri, 1994, Dasar-Dasar Agronomi, PT. Raja Garfindo, Jakarta.
Machmudi, 2012. Petunjuk Praktikum Hortikultura Buah. Malang. UMM
Saputra, D.D.1990.Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: gramedia.
Wudianto, R.2002. Membuat Setek, Cangkok dan Okulasi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Wudianto, Rini. 1998. Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi. Jakarta: Penebar       Swadaya.









Lampiran 1. Dokumentasi Pengamatan Praktikum





2 komentar:

  1. 888casino Promo Code 2021 | INCL. Promo Code for Dec 2021
    888 Casino is offering 동두천 출장샵 online slots and table 충청북도 출장샵 games for all types of players to enjoy. Withdrawing in the event of a discrepancy, the site 김포 출장안마 will payout $50,000.Bonus Code: JAMBLERENOCasino Type: Slots 이천 출장안마 and Table 제주도 출장마사지 GamesBonus Valid: December 2021 Rating: 8.3/10 · ‎Review by JAMBLERENO

    BalasHapus
  2. Best No Deposit Bonus Codes in India - Herzamanindir.com
    5 steps1.Visit mens titanium wedding bands the official website of No https://tricktactoe.com/ Deposit India.
    Benefits of using a no deposit bonus.
    Benefits of 바카라사이트 using a no deposit herzamanindir bonus.
    Benefits of using a no deposit bonus.
    Online Sincere Accessory domain 1xbet app www.online-bookmakers.info

    BalasHapus